Jumat, 19 November 2010

Sejarah Olahraga


SEJARAH LAHIRNYA PON ( PEKAN OLAHRAGA NASIONAL )

Tugas ini Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Sejarah  Olahraga
Dosen Pengampu: Bpk Margono






Disusun Oleh:
Zakki Anas Mushoffi (08601244140)



JURUSAN PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA



Pendahuluan
Pada hakekatnya manusia hidup di bumi ini tidak hanya butuh makan dan minum untuk bertahan hidup. Manusia juga perlu berolahraga untuk dapat menjaga kebugaran tubuhnya dan  menjaga kesehatannya. Oleh karena itu, olahraga sangatlah penting untuk menjaga agar tubuh kita selalu sehat dan menjauhkan diri kita dari penyakit. Sehubungan dengan hal tersebut, kita harus beroahraga mengingat betapa pentingnya olahraga dalam kehidupan sehari-hari.
Di Indonesia, grafik perkembangan olahraga mengalami penurunan sampai kedalam taraf yang sangat memprihatinkan. Minat generasi muda yang sangat besar terhadap olahraga, akan tetapi pemerintah kurang tanggap menghadapi situasi ini. Hal ini dapat kita lihat dari kurangnya event-event yang terkait dengan olahraga yang diselenggarakan oleh pemerintah baik yang bersifat regional maupun nasional. Kenyataan ini sangatlah ironis mengingat sebenarnya fungsi dari event-event tersebut adalah sebagai sarana menyalurkan bakat dan minat para generasi muda di bidang olahraga. Jika hal ini tidak ditanggapi secara serius oleh pemerintah, maka tidak mustahil jika potensi-potensi para generasi muda bangsa kita tidak akan tergali karena tidak adanya sarana untuk menyalurkannya. Melihat kondisi ini, para kaum yang sangat peduli dengan keolahragaan di Indonesia tergugah untuk membentuk suatu wadah penyaluran bakat dan minat para generasi muda yang sekarang kita kenal dengan sebutan PON ( Pekan Olahraga Nasional ).
Rumusan Masalah
1.      Mengapa minat generasi muda dalam bidang olahraga kurang mendapat perhatian dari pemerintah?
2.      Apa usaha yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah ini?
3.      Apa tujuan diadakannya PON?
Pembahasan
Pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta telah terbentuk Persatuan Sepakbola yang bersifat kebangsaan yang bernama Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia , disingkat PSSI dengan ketuanya Ir. Soeratin Sosrosugondo. Pembentukan persatuan nasional tersebut merupakan tindakan dari kalangan bangsa Indonesia, karena ingin mengatur oganisasinya sendiri. PSSI sejak tahun 1931 menyelenggarakan kompetisi tahunan antar kota/anggota, dan tidak ikut serta dalam pertandingan-pertandingan antar kota yang diadakan oleh Belanda.
Berkat perkembangannya yang baik, pada tahun 1938 pihak Belanda melalui persatuan sepakbolanya, Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) mengadakan pendekatan dan kerjasama dengan PSSI. Jejak sepakbola ini dituruti oleh cabang olahraga Tennis dengan berdirinya Persatuan Lawn tennis Indonesia (PELTI) pada tahun 1935 di Semarang. Berkedudukan di Jakarta (waktu itu bernama Batavia), pada tahun 1938 lahirlah Ikatan Sport Indonesia dengna singkatan ISI, satu-satunya badan olahraga yang bersifat nasional dan berbentuk federasi. Maksud dan tujuannya adalah untuk membimbing, menghimpun dan mengkoordinir semua cabang olahraga, antara lain PSSI, PELTI dan Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia (PBKSI), yang didirikan pada tahun 1940. ISI sebagai koordinator cabang-cabang olahraga pada tahun 1938 pernah mengadakan Pekan Olahraga Indonesia , yang dikenal dengan nama ISI – Sportweek, pekan olahraga ISI.
Serangan Jepang secara mendadak pada tanggal 8 Desember 1941 terhadap Pearl Harbour (Pelabuhan Mutiara) menimbulkan perang Pasifik. Dengan masuknya Jepang ke Indonesia pada bulan Maret 1942, ISI oleh sebab berbagai kesulitan dan rintangan, tidak bisa menggerakkan aktivitasnya sebagaimana mestinya. Pada zaman Jepang gerakan keolahragaan ditangani oleh suatu badan yang bernama GELORA, singkatan dari Gerakan Latihan Olahraga , yang terbentuk pada masa itu. Tidak banyak peristiwa olahraga penting tercatat pada zaman Jepang selama tahun 1942 – 1945, oleh karena peperangan terus berlangsung dengan sengit dan kedudukan tentara Nipon terus pula terdesak. Dengan sendirinya perhatian Pemerintah militer Jepang tidak dapat diharapkan untuk memajukan kegiatan olahraga di Indonesia. Dengan runtuhnya kekuasaan Jepang pada bulan Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia membuka jalan selebar-lebarnya bagi bangsa kita untuk menangani semua kegiatan olahraga di tanah air sendiri. Kegiatan-kegiatan ini pada awal kemerdekaan belum dapat digerakkan sepenuhnya, disebabkan perjuangan bangsa kita dalam mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan yang baru direbut itu, mendapat cobaan dan ujian. Sebagai akibatnya timbullah pertempuran di berbagai tempat, yang menjadi penghalang besar dalam mengadakan aktivitas keolahragaan secara tertib dan teratur. Namun demikian, berkat usaha keras para tokoh olahraga kita, pada bulan Januari 1946, bertempat di Habiprojo di kota Solo diadakan kongres olahraga yang pertama di alam kemerdekaan. Berhubung dengan suasana pada masa itu, hanya dihadiri oleh tokoh-tokoh olahraga dari pulau Jawa saja.
Dalam kongres ini mulanya dimajukan dua nama lainnya, yang akan diberikan kepada badan olahraga yang bakal dibentuk itu, yaitu ISI dan GELORA. Keduanya tidak terpilih dan sebagai kesimpulan rapat, diremikanlah berdirinya PORI dengan pengakuan Pemerintah, sebagai satu-satunya badan resmi persatuan olahraga, yang mengurus semua kegiatan olahraga di Indonesia. Fungsinya sama dengan ISI.
Sesuai dengan fungsinya, PORI adalah juga sebagai koordinator semua cabang olahraga dan khusus mengurus kegiatan-kegiatan olahraga dalam negeri. Dalam hubungan tugas keluar, berkaitan dengan Olimpiade dan International Olympic Committee (IOC), Presiden R.I. telah melantik Komite Olympiade Republik Indonesia (KORI) yang diketuai oleh Sultan Hamengku Buwono IX dan berkedudukan di Yogyakarta.
Mengingat dan memperhatikan pengiriman para atlet dan beberapa anggota pengurus besar PORI ke London sebagai peninjau tidak membawa hasil seperti diharapkan semla konferensi sepakat untuk mengadakan pekan olahraga, yang direncanakan berlangsung pada bulan Agustus/September 1948 di Solo. PORI ingin menghidupkan kembali Pekan Olahraga yang pernah diadakan ISI pada tahun 1938, terkenal dengan nama ISI sportweek, Pekan Olahraga ISI. Kongres olahraga pertama diadakan di Solo pada tahun 1946 yang berhasil membentuk PORI.
Ditilik dari penyediaan sarana olahraga, Solo dapat memenuhi persyaratan pokok, dengan adanya stadion Sriwedari serta kolam renang, dengan catatan Sriwedari pada masa itu, termasuk yang terbaik di Indonesia. Tambahan pula pengurus besar PORI berkedudukan di Solo dan hal-hal demikianlah menjadi bahan-bahan pertimbangan bagi konferensi untuk menetapkan kota Solo sebagai kota penyelenggara Pekan Olahraga nasional Pertama (PON I) pada tanggal 8 s/d 12 September 1948.
Penutup
Maksud dan tujuan penyelenggaraan PON adalah untuk menunjukkan kepada dunia luar, bahwa bangsa Indonesia, di tengah-tengah dentuman meriam, dalam keadaan daerahnya dipersempit sebagai akibat Perjanjian Renville, tegasnya dalam keadaan darurat, masih dapat membuktikan, sanggup menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, yang berbeda-beda suku dan agamanya, akan tetapi tetap bersatu kokoh dalam Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, kita harus menghargai jasa-jasa para pemprakarsa berdirinya. Dengan adanya PON, maka para generasi muda tidak lagi bingung mencari sarana untuk menyalurakan bakat dan minatnya, bahkan menorehkan prestasi di bidang olahraga. Dari terselenggaranya PON, sudah banyak para olahragawan yang dapat mengharumkan nama bangsa Indonesia di level Internasional, seperti contohnya pada Olympiade.
Daftar Sumber
2.      http://www.wikipedia.co.id










Tidak ada komentar:

Posting Komentar